PollyStop
At a restaurant C1 · Stretch yourself 258 words · 3 min

Biji-bijian Sembilan Puluh Hari

In a bar in Kirkwall, a flat dark bannock turns out to be the reason the islands were farmable at all.

Illustration for Biji-bijian Sembilan Puluh Hari

Before you read

Words you'll learn

Tap a word or phrase to see what it means.

Listen to Polly read it
Indonesian voice

Bar di Kirkwall itu punya lima meja dan sebuah perapian, dan pintunya langsung membuka ke jalan berbatu abu-abu dengan katedral di ujung atasnya. Polly mengambil meja yang paling dekat dengan hangatnya api, karena setelah seharian di air tidak ada meja lain yang masuk akal. "Boleh saya lihat menunya?" tanyanya, lalu menerima sehelai kartu dengan lebih sedikit pilihan daripada dugaannya dan lebih banyak bahan lokal.

"Bisakah Anda merekomendasikan hidangan yang enak?" Pemiliknya seekor bangau, burung yang memang dibentuk untuk berdi...

"Bisakah Anda merekomendasikan hidangan yang enak?" Pemiliknya seekor bangau, burung yang memang dibentuk untuk berdiri di balik meja, dan ia merekomendasikan bannock tanpa ragu. Bere adalah jelai yang sudah mereka tanam di sini selama berabad-abad, biji-bijian berbaris enam yang kadang disebut jelai sembilan puluh hari karena matang cukup cepat untuk selesai di dalam satu musim panas di utara. Digiling menjadi tepung bere, jelai itu menghasilkan bannock pipih berwarna gelap yang rasanya seperti ladang asalnya.

"Apakah ada pilihan vegetarian?" tanya Polly, dan bangau itu menunjuk kembali ke baris yang sama di kartu tadi. Banno...

"Apakah ada pilihan vegetarian?" tanya Polly, dan bangau itu menunjuk kembali ke baris yang sama di kartu tadi. Bannock, mentega, dan crowdie, keju segar lembut yang sejak dulu dibuat pertanian di sini. Biji-bijian yang sama punya kehidupan kedua di seberang kota, di penyulingan di bawah menara, yang sudah bekerja sejak tahun seribu tujuh ratus sembilan puluh delapan, tempat seluruh jalan berbau malt hangat pada pagi yang tepat.

"Boleh kami minta bonnya?" kata Polly ketika piringnya kosong, dan bangau itu membawanya dengan santai, yang di sini ...

"Boleh kami minta bonnya?" kata Polly ketika piringnya kosong, dan bangau itu membawanya dengan santai, yang di sini justru sebuah pujian. Di luar, angin sudah turun ke tingkat yang oleh kepulauan ini dianggap tenang. Polly berjalan menaiki jalan abu-abu itu, melewati batu pasir merah katedral, dengan rasa iklim yang keras di langit-langit mulutnya.

That's the story.

Your AI tutor

Now say it out loud. Talk about this story with Polly.

Polly is PollyStop's voice tutor. She talks with you about stories like this one, out loud.

Get PollyStop free.

  • A new graded story every day, with audio.
  • Save the words you meet and practise them later.
  • Speaking practice with feedback.
  • Polly, the voice tutor, is opening up to more learners.

Keep learning in PollyStop

Listen, save words, practise

Get the app